Petugas stasiun
mengumumkan kereta akan segera datang. "Tujuan Jakarta Kota",
katanya. Penumpang berlarian, bergegas berebut kursi agar bisa duduk sepanjang
perjalanan. Dia masih di depan loket, menantiku seharusnya. Aku pun bergegas,
mengejarnya. Dia pasti terlalu lama menungguku sampai terlihat rona kecemasan
di raut peranakannya. "Maaf", dengan penuh sesal kumohonkan. Dia
hanya tersenyum simpul. Peluh bercucuran di dahinya, mungkin begitu mengkhawatirkanku
atau mungkin khawatir sebelum aku datang, kereta berangkat terlebih
dahulu.
Kemeja biru
muda, kemeja kesukaannya. Tergulung sampai siku, seperti kali terakhir kita
bertemu. Jaket abu-abu kehitaman yang biasa dikenakan, kini hanya tergantung di
lengan kirinya. Mungkin terlalu gerah menunggu. Ponsel di tangan kanannya, sempat
kulirik, dia sudah menekan nomor ponselku, hanya tinggal menekan tombol panggil
kalau-kalau aku sampai lebih lama lagi. Kacamata dengan bingkai hitam, tak
pernah bertengger di tempat selain hidungnya.
"Kita mau
kemana?", tanyaku.
"Kau cukup
bersedia kugandeng, dan jangan berani pindah dari sisiku. Sedetikpun!",
pintanya.
Dia langsung
meraih jemariku, menggenggamnya erat. Takut terlepas katanya. Kereta keempat
hari ini, gerbong ketiga. Bahuku terdorong orang yang hendak turun, "Aduh!".
"Kau tak apa? Apa yang sakit?", dengan jemarinya yang tetap
menggenggam erat jemariku. "Tak apa, jangan khawatir."
Perjalanan kita
dimulai, satu stasiun, dua stasiun, tiga stasiun. Kereta itu sesak, penumpang
semakin bertambah seiring bertambahnya stasiun yang kita lewati. Kepalaku
pusing, perutku mulai mual. Aku lemas. Kusandarkan kepalaku di pundaknya. Satu
menit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit setelahnya aku tak sadar.
Hal terakhir yang kuingat hanya genggaman jemarinya yang mengerat.
***
Dalam kereta menuju st. Jakarta Kota, 15
November 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar