Postingan Populer

Minggu, 16 November 2014

"Kita Mau Kemana?"

Petugas stasiun mengumumkan kereta akan segera datang. "Tujuan Jakarta Kota", katanya. Penumpang berlarian, bergegas berebut kursi agar bisa duduk sepanjang perjalanan. Dia masih di depan loket, menantiku seharusnya. Aku pun bergegas, mengejarnya. Dia pasti terlalu lama menungguku sampai terlihat rona kecemasan di raut peranakannya. "Maaf", dengan penuh sesal kumohonkan. Dia hanya tersenyum simpul. Peluh bercucuran di dahinya, mungkin begitu mengkhawatirkanku atau mungkin khawatir sebelum aku datang, kereta berangkat terlebih dahulu. 
Kemeja biru muda, kemeja kesukaannya. Tergulung sampai siku, seperti kali terakhir kita bertemu. Jaket abu-abu kehitaman yang biasa dikenakan, kini hanya tergantung di lengan kirinya. Mungkin terlalu gerah menunggu. Ponsel di tangan kanannya, sempat kulirik, dia sudah menekan nomor ponselku, hanya tinggal menekan tombol panggil kalau-kalau aku sampai lebih lama lagi. Kacamata dengan bingkai hitam, tak pernah bertengger di tempat selain hidungnya. 
"Kita mau kemana?", tanyaku. 
"Kau cukup bersedia kugandeng, dan jangan berani pindah dari sisiku. Sedetikpun!", pintanya. 
Dia langsung meraih jemariku, menggenggamnya erat. Takut terlepas katanya. Kereta keempat hari ini, gerbong ketiga. Bahuku terdorong orang yang hendak turun, "Aduh!". "Kau tak apa? Apa yang sakit?", dengan jemarinya yang tetap menggenggam erat jemariku. "Tak apa, jangan khawatir." 
Perjalanan kita dimulai, satu stasiun, dua stasiun, tiga stasiun. Kereta itu sesak, penumpang semakin bertambah seiring bertambahnya stasiun yang kita lewati. Kepalaku pusing, perutku mulai mual. Aku lemas. Kusandarkan kepalaku di pundaknya. Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit setelahnya aku tak sadar. Hal terakhir yang kuingat hanya genggaman jemarinya yang mengerat. 
*** 

Dalam kereta menuju st. Jakarta Kota, 15 November 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar