Postingan Populer

Minggu, 16 November 2014

Beberapa Detik

Beberapa waktu terakhir aku jadi sering mengingat kebersamaan kita mengamati rel-rel yang tergelar di sisi peron. Aku kembali terduduk pada kursi yang dirakit dari besi, di las, sampai terbentuk layak dan begitu mengkilat sebagai tempat duduk. Kosong, di sebelahku. Dahulu, ada kamu.
Aku kembali mengingat-ingat, bahu yang agak tebal terbungkus jaket hangat, kubaringkan kepalaku di sana. Mengamati rel-rel besi yang ditetesi air hujan waktu itu. Gerimis, hujan, lalu deras. Aroma tanahnya begitu mendamaikan kita.
Aku kembali merasakan, lengan yang menyeberangi pundakku, merangkulnya, membagi kehangatan yang sejak lama dirasakannya sendiri. Terpejam mataku. Semilir aroma tubuhmu jadi begitu hatam kuhapal. Kunikmati hangatnya.
Peron-peron semakin sepi kaki-kaki orang lalu lalang. Kita masih terduduk rapi dengan kepalaku di pundakmu dan lenganmu di pundakku. Senja datang. Hujan masih membasahi rel-rel besi itu. Percikannya membasahi peron, hampir basah kursi yang kita duduki.
Sedetik, semenit, sejam, berjam-jam sampai gelap. Aku merasa semakin tenggelam dalam dekap hangat lenganmu saat hujan.
"Aku ingin habiskan sisa waktuku denganmu, Ann." Pintanya.
Kupejamkan mataku, memohon pada Tuhan agar berbaik hati mengabulkan pintanya. Sesaat setelah suaranya kabur, kecupan dari bibirnya mendarat di kepalaku. Beberapa detik. Berarti.

St. Tanah Abang, 2 Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar