Beberapa waktu terakhir aku jadi sering mengingat kebersamaan kita
mengamati rel-rel yang tergelar di sisi peron. Aku kembali terduduk pada kursi
yang dirakit dari besi, di las, sampai terbentuk layak dan begitu mengkilat
sebagai tempat duduk. Kosong, di sebelahku. Dahulu, ada kamu.
Aku kembali mengingat-ingat, bahu yang agak tebal terbungkus jaket
hangat, kubaringkan kepalaku di sana. Mengamati rel-rel besi yang ditetesi air
hujan waktu itu. Gerimis, hujan, lalu deras. Aroma tanahnya begitu mendamaikan
kita.
Aku kembali merasakan, lengan yang menyeberangi pundakku,
merangkulnya, membagi kehangatan yang sejak lama dirasakannya sendiri. Terpejam
mataku. Semilir aroma tubuhmu jadi begitu hatam kuhapal. Kunikmati hangatnya.
Peron-peron semakin sepi kaki-kaki orang lalu lalang. Kita masih
terduduk rapi dengan kepalaku di pundakmu dan lenganmu di pundakku. Senja
datang. Hujan masih membasahi rel-rel besi itu. Percikannya membasahi peron,
hampir basah kursi yang kita duduki.
Sedetik, semenit, sejam, berjam-jam sampai gelap. Aku merasa
semakin tenggelam dalam dekap hangat lenganmu saat hujan.
"Aku ingin habiskan sisa waktuku denganmu, Ann."
Pintanya.
Kupejamkan mataku, memohon pada Tuhan agar berbaik hati
mengabulkan pintanya. Sesaat setelah suaranya kabur, kecupan dari bibirnya
mendarat di kepalaku. Beberapa detik. Berarti.
St. Tanah Abang, 2 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar