Postingan Populer

Sabtu, 24 Januari 2015

Aduan

Mah, aku seperti dibuang.
Padahal surya sedang garang.
Hujan terlalu baik karena tidak datang.
Membiarkan semua tetap riang.

Mah, tapi aku kedinginan.
Sekedar senyum tak berkenan.
Apalagi sapa kepada hunian.
Rasanya berat untuk didambakan.

Mah, aku seperti diabaikan.
Ke mana jemari yang mengisi genggaman?
Ke mana, Mah?
Ke mana?

Dalam titik yang paling bisu.
Aku tak menepis tatapan yang beradu.
Tapi aku ingin meraihmu.
Tepat di titik itu: rindu.

Dalam titik yang paling bisu.
Aku mempertanyakan kita yang (tidak) menyatu.
Apakah semogamu (masih) aku?

Rabu, 21 Januari 2015

Presipitasi Berwujud Cairan

Oleh: Arini Hidayah

"Aku menyukai presipitasi berwujud cairan,
seperti biasan cahaya yang datang setelahnya."

Deras. Tubuh melemas.
Tak bisa segera pulang. Dihadang.
Basah. Seluruhnya tanpa celah.
Sendirian berteduh. Rapuh.

Bedua. Berteduh disisi jendela.
Kaku malu-malu. Tersipu.
Banjir. Tergoda bermain air.
Gelak tawa menggema. Canda.

Berlalu. Aku masih bersamamu.
Tepat di akhir hari. Menemani.
Pulang. Kau antar aku sampai gerbang.
Tiba meski semua kuyup basah. Rumah.

Esok. Tidak lagi berniat belok.
Tertuju satu tujuan. Ke depan.
Bersama. Melangkah menikmati cinta.
Di bawah derasnya bergandengan. Hujan.

"Aku membenci presipitasi berwujud cairan,
seperti terik yang tak pernah datang bersamanya."

Pisah. Bersama sudah gerah.
Tak mampu lawan rintang. Perang.
Hujan. Sudah tak mampu lagi ungkapkan.
Pasrah pada takdir. Berakhir.

Kecewa. Kudengar hujan baru temukan pelanginya.
Sedang hatiku berangsur mengeras. Panas.
Beku. Sedang tatap dan laku jadi kaku.
Berhenti berperang. Pulang.

Mesra. Hujan selalu diiringi pelanginya.
Sebab setia sudah tak lagi ada. Dusta.
Makna. Cinta tak lagi membara.
Berujung pada muara laut. Kalut.

Indah. Tentang hujan memang tak pernah berubah.
Tapi bagai panas gelisah. Pisah.
Bersamamu. Bagai hujan dengan panas yang tak padu.
Katamu cinta masih tersisa. Percaya.

Bekasi, 21 Januari 2015

Jumat, 16 Januari 2015

Semogaku

Dimohonkan oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, dan Sukmawati

Sekali ini kuucapkan cinta padamu; semogaku. Namun, takut sendirinya menyarang, masihkah kau selembut dulu? Seperti ketika tatap belum berani mengharap?
Semogaku; di setiap tatap menyelinap harap yang lama mengendap dan tak pernah sepatahpun terucap. Saat senyap aku berharap kau ada, berhadap dan mendekap.

Pada senja, kau terbayang di pelupuk mata. Dalam buai, harapku melabuhkan rindu padamu semogaku yang senantiasa diaminkan malaikat malam yang bercengkrama.
Kepada semogaku; merasakan jatuh yang tak sakit pada tatap pertama peraduan mata, sejak itu kau hadir, membuktikan kuasa Tuhan menghadirkanmu sebagai takdir.

Aku diam didekap malam, pada rindu yang baru saja tersampaikan sebab kau pulungi celotehku begitu tenang. Sejurus ada yang diam-diam jatuh. Jatuh cinta.
Kehanyaan padamu dihaturkan rasa yang begitu agung, sampai pada satu titik, tak lagi kutemukan belahan dari rasa itu. Tetap padamu, kehanyaan satu.

Sekali ini kuberanikan menangkap bola mata yang teduh mengusik sukma. Segaris senyum simpul yang selaras dengan rona wajah sendu. Aku, jatuh cinta.
Teruntuk yang selalu kusemogakan dalam doa; biarlah kuselalu jadi pengagum rahasia.


30 Desember 2014

Emosi Kopi


Diracik oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Ferrara Ferronica, Luthfiatul Fuadah, dan Sukmawati

Secangkir kopi yang tak sengaja kutenggak ternyata bukan sekedar kopi. Rasanya tak hanya pahit, namun masam tertinggal di kerongkongan. Kopi rasa kemarin.
Kopi kemarin terasa manis karena ditenggak secangkir berdua dengan bibirmu. Namun rasanya cepat berubah secepat hilangnya pedulimu. Masam kini hilang kamu.
Ya, masam! Tak ada aroma menyeruak hangat. Sebab yang tersaji hanya secangkir kopi rasa kemarin. Tanpa gula, dan tanpa kamu sebagai pelengkap malam.
Asam di lambungku kini mulai naik. Ingin kumuntahkan kopi masam di tengah kejahanaman malam. Lalu kurauk muntahku dan kupoleskan padamu yang hanya diam.

Apa kau tak ingat cangkir terakhir yang kubuatkan? Takkan masam jika tak kau biarkan, tak kau abaikan.
Butiran serbuk kopi ketika diseduh, memberikan aroma yang khas dan aku ingin seperti butiran robusta. Apakah kau mengetahuinya?
Juga kafein yang menggoda pada malam, memaksa tak boleh terpejam. Sebab masih tersisa setengah cangkir kopi yang harus kau tenggak tapi tak ingin kau buang.
Kopi memang pahit, tapi bergitu nikmat jika diberi gula dan tentunya akan digemari. Begitupun kau selalu kugemari walau kutahu dalam kenyataan terasa (pahit).

Aroma kopi menyeruak ditengah gaduh dalam ruang menyelinap rongga hidung sampai tertengguk kerongkong, hangat dalam badan. Ya, secangkir kopi pada malam jahanam.
Malam itu kita berdua dengan secangkir kopi, pelukmu semakin erat tatkala malam semakin penat. Bibirmu menyentuh mulut cangkir dengan lembut, padahal hati menciut.
Sejujurnya aku khawatir, lakumu yang setiap saat mengambang di pelupuk mata esok hilang tanpa bilang.
Kopinya sengaja tak sehari habis, siapa tahu masih sama manis karena bibirmu yang aduhai manis. Tapi sungguh tragis, manisnya jadi masam seiring kau berubah jadi yang maha kejam.

Kendati kini cangkir itu tak lagi milik berdua. Kau pergi menyisakan sidik bibirmu di pinggir mulut cangkirnya. Bukan main masamnya, aku jadi hilang selera.
Bila boleh pengandaianku, kuandaikan senyatanya inginku berhentikan waktu saat di mana aku menggigil, lalu kau peluk ditemani secangkir kopi untuk menghangatkan.
Dan kendati cangkirku tak lagi dipenuhi kopi racikanmu, kuandaikan malam itu bahumu sejajar membersamaiku. Kubayangkan wajahmu dalam cangkir kopiku.
Kopi kemarin yang aku sajikan sudah pasti masam rasanya. Tak enak. Sudah cukup kau berandai, tak baik pengandaianmu. Hanya tergadai!

Aku ingin secangkir kopi terakhir malam itu. Ya, kopi robusta yang kau racik nikmat tiada tandingan. Oh sungguh, bualan kopi terus saja memanjakanku pada malam.
Secangkir kopi perempuan jahanam pada malam jahanam untuk laki-laki jahanam tuntas kuseruput habis.


30 Desember 2014

Selamat Makan Malam

Oleh: Arini Hidayah dan Cahya Ali Nur Ikhsan

Cahaya nyala api yang benderang saat gelap…

Kita bertemu
Pada lilin kelima
Di rumah makan keempat
Yang ada di tikungan kedua belas

Penuh canda tawa, lilin pencipta cinta…

Aku kenakan kemeja putih,
Celana abu-abu gelap, dan seuntai dasi
Lengkap dengan pengharum tubuh
Yang pasti sudah hatam aromanya kau ciumi

Waktu, berhentilah sejenak…

Kau kenakan gaun putih menjuntai
Lengkap dengan hiasan rambut berwarna senada
Aroma tubuhmu pun sudah begitu akrab kuciumi
Wajah berseri bercahaya

Harus dengan apa lagi kugambarkan ciptaan-Mu, Tuhan?

Kita duduk berhadapan
Kau lekat dalam pandangan
Tersipu sesaat setelah kita beradu tatapan
Malu begitu wajahmu bahasakan

Lilin di meja pun ikut terheran-heran…

Parasmu yang begitu menawan
Senyum malu yang membuatku enggan bosan
Ditambah pantulan cahaya lilin ruangan
Kau jadi begitu indah ditatapan

Abadikan, Tuhan. Kumohon, abadikan…

Perlahan jemari kita menyatu
Cahaya lilin begitu membantu
Penciptaan siluet genggaman kita pada dinding itu
Aku jatuh, jatuh cinta amat terlalu

Hanya kepadamu; dengan atau tanpa bersahabatnya ruang dan waktu.

Selamat makan malam.


Bekasi, 16 Januari 2015

Kamis, 01 Januari 2015

Sampah

Oleh: Anisa Rahayu dan Khusnul Chotimah

Pasrahku tak lagi berarah
Terjebak cinta yang kini berubah amarah
Hadirku tak lagi buatmu kembali ajegkan kerah
Karena aku kini hanya sampah
Di bawah alas kakimu yang gagah

Di balik liur rusuh yang berbau busuk
Tatapku tetap melabuh padamu yang kurindu
Biar kau anggap aku sampah yang merapah
Namun raga tak sedikit pun menjauh


Ciputat, 21 Desember 2014

Tahi

Oleh: Arini Hidayah dan Luthfiatul Fuadah

Kerontang raga memikul pilu
Pada suatu pesta malam biru
Aroma rindu tak seharum dulu
Malah tahi kuciumi rindu
Luluh, lantah, aku termangu

Tahi!
Kau bilang, kau rindu
Sedikit pun tubuhmu tak berlagu
Sekali lagi kau bilang rindu tanpa laku
Kau melucu!


Ciputat, 21 Desember 2014