Postingan Populer

Kamis, 01 Januari 2015

Rinai

Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan Luthfiatul Fuadah

Rinai membersamai penantian sedari tadi
Membuatku berpikir,
Masih perlukah aku menanti?
Kebersamaan kita desas-desus berganti
Bukan dia yang berupa
Namun perjalanan pemilik hati; kamu

Masih ingatkah pada waktu yang sedari dulu berlabuh?
Mengusap tanya pada rindu yang kian menjamu
Terlungkup malu aku mengaku
Hanya pada temaram aku mampu mengadu
Mengaku mau untuk kita lagi berpadu,
Bersamamu


Ciputat, 21 Desember 2014

Ranting

Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan Luthfiatul Fuadah

Dedaunan bergelayut di ranting kayu
Basah dihujani rinai malam kelabu
Kepadamu kehanyaan aku melabuhkan rindu
Seperti ranting bertahan pada pohon yang satu

Karena kamu, sendiriku usah tuk berlaku
Biarkanlah rasaku menari diataskan rindu, padamu

Kepada akar denyutku meniti harap yang tak semu
Menaruh rindu padamu yang tak kunjung sendu
Sampai kapan resah menggelut hati yang lusuh?
Sedari dulu kutitih harap padamu yang menjamu


Ciputat, 21 Desember 2014

Lumpur

Oleh: Khusnul Chotimah dan Luthfiatul Fuadah

Tak jua resap tanah beradu satu menjadi batu
Namun kulihat lumput mengalir deras tanpa sehelai pun tertelan malu
Andai liat dapat saling beradu
Kupastikan kau menjadi saksi atas tunggu yang membisu

Kujejaki lumpur bau dengan saru
Dalam risau hati yang tak punya malu, menuntut arti sebuah rindu
Kurasa harga diri sudah tak perlu,
Saat raga kau regas begitu nafsu

Ciputat, 21 Desember 2014


Gemuruh

Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan Luthfiatul Fuadah

Jiwaku lusuh menatap matamu yang angkuh
Dikoyak sakit yang tak jua berlabuh,
Rasaku bergulat sakit; bergemuruh

Helaian angin serontak hadir
Menarik napas hingga sesak tak kuasa berlabuh

Pada dekap malam, aku berlagu
Menimang rasa yang kutahu pilu
Entah kapan tenggat waktuku berujar rindu
Dalam pertapaanku, sampai datang waktu
Kuharap kau tak lagi semu


Ciputat, 21 Desember 2014

Debu

Oleh: Anisa Rahayu dan Arini Hidayah

Katamu…
Kau bagai debu
Tak bernada
Tak berlagu

Katamu…
Kau bagai aku
Tegak,
Nyata, tak semu

Kepada cermin di dinding batu
Meski hanya bayangmu
Tak kulihat kita bersatu padu

Katamu…
Kau bagai debu
Hadir meski tak pernah dirasa perlu

Katamu…
Kau bagai aku
Yang senantiasa memupuk rindu

Rasa rindu berkemul dalam-dalam padamu
Padahal sendiriku ragu

Aku tetap memandang cermin di hadapan
Yang menyimpan guratan
Tegak, nyata, tak semu;
Bayang wajahmu


Ciputat, 21 Desember 2014

Catatan


Oleh: Anisa Rahayu, Arini Hidayah, Khusnul Chotimah, dan Luthfiatul Fuadah

Saat ujaran tak kuasa berucap
Kusantap helai kertas di atas atap

Kutumpahi tinta dalam derai
Lirih angin berbisik untuk menyudahi

Segera sampaikan pada sebuah titik

Perlu apa lagi kujabarkan bait ini?
Sedang catatan sudah menitik sejak jauh-jauh hari

Goresan pena membentuk diksi tentang cinta,
Tentang hujan, tentang kamu
Namun aksaranya mengambang
Tak sampai pada si empunya cinta

Kamu catatanku. Puisiku.


Ciputat, 21 Desember 2014

Rintang Ranting Kerontang

Oleh: Arini Hidayah

Dia pernah tumbuh hijau
Hijau itu pernah memayungimu
Memayungi dari sengatan surya
Surya yang menggarang di tengah siang

Siang itu aku kembali kepadamu
Kepada teduh hijaumu
Hijaumu kini telah hilang
Hilang teramat sayang

Sayang kini kau kerontang
Kerontangmu tak mampu teduhkan
Teduhkan mereka yang tersengat
Tersengat perih yang teramat


Bekasi, 25 Desember 2014